DAPAT DILAKUKAN DENGAN BIJAK MENGOLAH SISA MAKANAN
Pada Hari Raya Idulfitri, setiap keluarga biasanya mulai sibuk mempersiapkan hidangan untuk disantap bersama. Mulai dari camilan kue kering hingga masakan berat khas Lebaran seperti opor dan rendang. Momen ini memang selalu identik dengan penyajian makanan dalam jumlah besar.
Baca juga: Katak Jantan Akan Lebih Seksi saat Musim Berubah
Sayangnya, demi memuliakan tamu yang akan hadir, kita sering kali memasak dalam porsi berlebihan, sehingga makanan justru tersisa. Banyak keluarga yang mulai bosan menyantap opor dan rendang di hari-hari berikutnya, atau tanpa disadari, masakan terlanjur basi karena penyimpanan yang salah.
Secara tidak langsung, jika selama Ramadan kita meningkatkan jumlah sampah plastik dari pembelian takjil, saat Lebaran kita justru menambah food waste atau limbah makanan. Padahal, makanan tersebut sebenarnya masih layak dikonsumsi, namun akhirnya terbuang atau dibiarkan membusuk.
Menurut Meti Ekayani, dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, fenomena ini berkaitan dengan budaya. Masyarakat, menurutnya, cenderung merasa tidak sopan jika makanan yang disajikan kurang, padahal sering kali akhirnya tidak habis.
Ia menambahkan, persoalan food waste tidak hanya berhenti pada pemborosan, namun juga berdampak pada lonjakan volume sampah kota. Meti menilai, sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum optimal dalam mendorong masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumbernya.
Ia pun menegaskan, jika food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya sisa tersebut dapat diolah. Dengan begitu, katanya, tidak hanya mengurangi sampah, tapi juga menciptakan manfaat baru dari limbah makanan.
Baca juga: Apa yang Terjadi Jika Nyamuk Dimusnahkan?
Menurut data Bappenas, Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia pada tahun 2000–2019 berkisar antara 23–48 juta ton per tahun, atau setara dengan 115–184 kg per kapita per tahun. Hal ini memicu kerugian ekonomi sebesar Rp213–551 triliun per tahun.
Padahal, jika dikelola dengan baik, potensi makanan yang terbuang tersebut dapat memberi makan 61–125 juta orang, atau sekitar 29–47% populasi Indonesia.
Berdasarkan studi Lestari dkk., estimasi Bappenas (2021) mencatat, sekitar 80 persen food waste di Indonesia terjadi pada tahap konsumsi rumah tangga. Artinya, rantai pemborosan ini sebenarnya bisa kita putus mulai dari dapur sendiri.
Food waste bukan sekadar sisa makanan biasa; dampaknya sangat besar terhadap kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Berdasarkan studi Handoyo dkk., limbah makanan yang membusuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan. Jejak karbon dari food waste diperkirakan mencapai 3,3 miliar ton CO2 per tahun.
Lebih lanjut, FAO memperkirakan sekitar sepertiga produksi makanan dunia (1,3 miliar ton) terbuang sia-sia, setara dengan kerugian ekonomi sebesar 990 miliar USD.
Di tingkat konsumen, food waste menyebabkan pemborosan karena pembelian impulsif, pembusukan makanan, serta kurangnya pemahaman tentang masa simpan produk. Penumpukan limbah ini tidak hanya membahayakan lingkungan, tetapi juga mengancam ketahanan pangan global maupun lokal.
Salah satu langkah bijak untuk mengurangi risiko food waste saat Lebaran adalah memasak secukupnya dengan memperkirakan jumlah tamu dan anggota keluarga. Hindari sifat "lapar mata" dan cobalah berkaca pada jumlah tamu di tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga: Hewan Asli Papua Yang Terancam Punah
Sebelum berbelanja, buatlah daftar kebutuhan beserta takarannya. Memanfaatkan bahan yang sudah ada di dapur jauh lebih baik daripada tergiur membeli bahan dalam jumlah banyak hanya karena masa kedaluwarsanya masih lama, yang berisiko tidak terpakai nantinya.
Jika upaya pencegahan sudah dilakukan namun makanan tetap bersisa, jangan langsung membuangnya. Sisa makanan Lebaran dapat disedekahkan kepada yang membutuhkan atau diolah kembali menjadi kreasi hidangan baru.
Dilansir dari Kompas.com, meskipun masakan Lebaran umumnya bersantan, sebaiknya jangan disimpan dalam satu wadah yang sama. Pisahkan lauk dan kuah saat disimpan agar lebih tahan lama dan mudah diolah kembali.
Simpan makanan di wadah tertutup pada suhu yang sesuai, seperti kulkas atau freezer. Saat akan dikonsumsi kembali, hindari memanaskan makanan terlalu lama atau pada suhu yang terlalu tinggi agar kandungan gizinya tidak rusak.
Hidangan seperti opor, rendang, atau olahan daging lainnya bisa dikreasikan kembali. Misalnya, daging dapat disuwir dan dibumbui untuk dijadikan isian roti atau lemper. Sayuran sisa sup juga bisa diolah menjadi skotel panggang dengan tambahan keju dan susu, sementara nasi putih sisa dapat diubah menjadi nasi goreng yang lezat.
Menyimpan dan mengolah sisa makanan Lebaran dengan bijak tidak hanya membantu mengurangi beban TPA, tetapi juga menjaga lingkungan sekaligus memaksimalkan manfaat dari makanan yang kita miliki.
Source: Nationalgeographic
Baca juga: Kenapa Ottoman Terus Gagal Taklukan Persia?


