FOSIL DINOSAURUS MIRIP BURUNG INI BERNAMA ALNASHETRI
:quality(100)/photo/2026/03/17/screenshot-2026-03-17-222424jpg-20260317103421.jpg)
Selama bertahun-tahun, keberadaan dinosaurus kecil yang aneh ini lebih banyak dikenal dari potongan-potongan tulang yang tidak lengkap. Gambaran utuh tentang bagaimana mereka hidup dan berevolusi pun terasa seperti teka-teki yang belum tersusun. Kini, sebuah penemuan fosil berusia sekitar 90 juta tahun mulai menjawab kebingungan tersebut dan membuka pemahaman baru tentang kelompok hewan prasejarah yang unik ini.
Baca juga: OpenAI Luncurkan GPT-5.4
Penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan University of Minnesota Twin Cities, Peter Makovicky bersama paleontolog Argentina, Sebastian Apesteguía ini berhasil mengidentifikasi fosil penting yang menjadi kunci dalam mengurai misteri lama tersebut.
Temuan mereka, yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature, menggambarkan kerangka hampir lengkap dari Alnashetri cerropoliciensis. Dinosaurus ini termasuk dalam kelompok theropoda mirip burung yang unik bernama alvarezsaur. Kelompok ini dikenal memiliki ciri yang tidak biasa, seperti gigi yang sangat kecil serta lengan yang sangat pendek dengan satu cakar ibu jari yang membesar.
Selama beberapa dekade, para ilmuwan kesulitan memahami kelompok ini. Hal itu terjadi karena sebagian besar fosil yang terawetkan dengan baik ditemukan di Asia, sementara temuan dari Amerika Selatan umumnya tidak lengkap. Akibatnya, ada celah besar dalam upaya menyusun kisah evolusi dinosaurus kecil yang penuh keanehan ini.
Melansir Science Daily, fosil Alnashetri yang hampir lengkap ditemukan pada tahun 2014 di Patagonia utara, Argentina, di sebuah lokasi kaya fosil yang terkenal karena pengawetan hewan Kapur yang luar biasa. Spesies ini sebenarnya telah diberi nama beberapa tahun sebelumnya berdasarkan sisa-sisa yang terfragmentasi, tetapi kerangka baru ini memberikan gambaran yang jauh lebih jelas tentang struktur tubuhnya yang tidak biasa.
Proses persiapan spesimen ini berlangsung lambat dan penuh kehati-hatian. Selama satu dekade terakhir, para peneliti dengan teliti membersihkan dan menyusun tulang-tulang rapuh tersebut untuk mencegah kerusakan.
Makovicky, penulis utama studi ini dan profesor di University of Minnesota menyebut, beralih dari kerangka yang terfragmentasi dan sulit ditafsirkan menjadi memiliki hewan yang hampir lengkap dan tersusun adalah seperti menemukan Batu Rosetta dalam paleontology.
Kini pihaknya memiliki titik acuan yang memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi temuan-temuan yang lebih kecil dengan akurat dan memetakan transisi evolusi dalam anatomi serta ukuran tubuh.
Baca juga: Bisakah Konsumsi Kentang Goreng Bersama Nasi?
Fosil ini memberi wawasan berharga tentang bagaimana garis keturunan dinosaurus ini berevolusi, menjadi lebih kecil, dan menyebar di berbagai benua purba.
Kerangka tersebut menunjukkan bahwa Alnashetri berbeda dari kerabatnya yang lebih muda dalam beberapa hal. Ia memiliki lengan yang lebih panjang dan gigi yang lebih besar, menunjukkan bahwa beberapa alvarezsaur telah berevolusi menjadi sangat kecil bahkan sebelum mengembangkan ciri khusus yang kemudian digunakan untuk pola makan yang diduga berupa “pemakan semut”.
Pemeriksaan mikroskopis pada tulang juga menunjukkan bahwa hewan ini sudah dewasa penuh dan berusia setidaknya empat tahun. Dinosaurus ini termasuk di antara dinosaurus non-unggas terkecil yang pernah diketahui, dan ukurannya tetap kecil sepanjang hidup.
Bahkan anggota terbesar kelompok ini hanya mencapai ukuran manusia rata-rata, yang tergolong kecil dibandingkan kebanyakan dinosaurus. Alnashetri sendiri memiliki berat kurang dari 1 kilogram, menjadikannya salah satu dinosaurus terkecil yang ditemukan di Amerika Selatan.
Dengan mempelajari fosil alvarezsaur lain yang tersimpan di museum di Amerika Utara dan Eropa, tim peneliti juga menemukan bukti bahwa kelompok ini muncul jauh lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan. Penyebaran luas mereka kemungkinan terjadi ketika benua-benua masih tergabung dalam superbenua Pangaea.
Pemisahan daratan Bumi kemudian menjelaskan bagaimana hewan-hewan ini tersebar di seluruh dunia tanpa harus bermigrasi melintasi samudra.
Kerangka yang terawetkan dengan baik ini berasal dari wilayah fosil La Buitrera, sebuah lokasi yang telah menghasilkan banyak penemuan penting secara ilmiah. Penemuan sebelumnya dari situs ini mencakup ular purba awal serta mamalia kecil bertaring seperti pedang.
Sebastian Apesteguía menjelaskan, setelah lebih dari dua dekade penelitian, wilayah fosil La Buitrera telah memberikan wawasan yang sangat unik tentang dinosaurus kecil dan vertebrata lainnya, bahkan dinilai tidak tertandingi oleh situs lain di Amerika Selatan.
Para ilmuwan masih terus meneliti fosil dari kawasan yang sama, dan berbagai temuan baru diperkirakan akan segera memperkaya kisah tentang dinosaurus yang tidak biasa ini. Sementara, Peter Makovicky menyebutkan, timnya bahkan telah menemukan bagian lanjutan dari kisah evolusi alvarezsaurid di lokasi tersebut, yang saat ini masih dalam tahap persiapan di laboratorium.
Source: Nationalgeographic
Baca juga: Kenapa Ottoman Terus Gagal Taklukan Persia?

